Remaja Masjid Baitul Muttaqien Snesa
Rabu, 28 Oktober 2026
Pengumuman Pemenang Lomba Pidato dan Yel Yel Anti Narkoba Peringatan Hari Santri Nasional 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026
Kegiatan Rutin Remas Baitul Muttaqin SNESA Kamis 15 Oktober 2026
Mengenal Tayamum sebagai Cara Bersuci dalam Keadaan Darurat
Pada Kamis, 15 Oktober 2026, kegiatan rutin Remaja Masjid
(REMAS) Baitul Muttaqien Snesa kembali digelar bersama kakak-kakak
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari UIN SATU Tulungagung tahun 2026 bersama Kak Dimas, Kak Anna dan Kak Adin.
Kegiatan diikuti oleh siswa anggota REMAS kelas 7, 8, dan 9 serta didampingi
tiga guru
Pembina yaitu Ibu Yanis Setiawati, S.Pd.I., Ibu Nurul Hidayah, S.Ag dan Bpk. Mujiono, M.Pd.I
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ibu Nurul Hidayah,
S.Ag. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Bapak
Mujiono, M.Pd.I, yang juga menjadi salah satu guru Pendidikan Agama Islam di
SMP Negeri 1 Ngunut. Dalam pengantarnya, beliau menyampaikan pesan bertema
ilmu, terutama pentingnya menuntut ilmu agama dan mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Setelah sambutan, acara berlanjut ke sesi perkenalan
kakak-kakak PPL UIN SATU Tulungagung. Setiap kakak PPL memperkenalkan diri
dengan ramah. Mereka kemudian menyampaikan materi utama pertemuan, yaitu
tayamum, salah satu cara bersuci dalam keadaan darurat. Materi ini dipilih
karena sangat penting untuk dipahami, terutama ketika air tidak tersedia atau
tidak dapat digunakan karena suatu halangan. Di sela penyampaian materi, kakak
PPL mengajak siswa membaca niat tayamum bersama-sama dan mempraktikkan tata
cara tayamum dengan tertib. Seluruh rangkaian kegiatan tetap berada dalam
pendampingan Ibu Yanis Setiawati, S.Pd.I, hingga acara selesai.
Materi Tayamum yang
Disampaikan:
Tayamum merupakan salah satu cara bersuci yang bersifat
darurat. Artinya, tayamum menjadi jalan yang dibolehkan ketika bersuci dengan
air sebagai alat utama tidak memungkinkan, baik karena air tidak ada maupun karena
adanya halangan tertentu. Adapun menurut istilah ahli fikih, tayamum adalah
menyampaikan atau mengusapkan debu yang suci ke wajah dan kedua tangan sebagai
pengganti wudu atau mandi, dengan syarat-syarat khusus.
Ada lima syarat yang berkaitan dengan dibolehkannya tayamum.
Pertama, adanya uzur, misalnya karena bepergian atau sakit. Halangan sakit yang
membolehkan tayamum harus berdasarkan rekomendasi dokter yang ahli; jika
menggunakan air akan menyebabkan kematian atau memperparah penyakit, maka
tayamum dibolehkan. Kedua, sudah masuk waktu salat. Tayamum tidak boleh
dilakukan sebelum masuk waktu salat jika tujuannya untuk salat tersebut.
Ketiga, setelah mencari air. Jika tayamum dilakukan karena tidak ada air, maka
seseorang perlu berusaha mencari air ke arah barat, timur, utara, dan selatan
terlebih dahulu. Keempat, masih adanya uzur atau halangan menggunakan air.
Artinya, ketika tayamum dilakukan, penyebab yang membolehkan tayamum seperti
sakit harus masih benar-benar ada. Kelima, debu yang digunakan harus suci,
kering, belum pernah dipakai untuk bersuci, dan tidak bercampur najis.
Adapun fardu tayamum ada empat, yaitu niat, mengusap wajah,
mengusap kedua tangan, dan tertib atau berurutan. Sementara itu, sunnah tayamum
ada tiga, yaitu membaca basmalah, mendahulukan anggota kanan, dan melakukannya
secara berturut-turut. Dalam praktik yang dilakukan bersama kakak PPL, siswa
diajak memahami urutan tersebut agar tayamum dilakukan dengan benar dan tertib.
Kegiatan rutin REMAS Baitul Muttaqien Snesa kali ini berjalan lancar dan penuh semangat. Kehadiran kakak-kakak PPL UIN SATU Tulungagung membawa suasana baru, sekaligus memperkaya pemahaman siswa tentang tayamum sebagai solusi bersuci dalam keadaan darurat. Diharapkan, ilmu yang diperoleh dapat dipahami, diingat, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika menghadapi situasi yang mengharuskan tayamum.
Sabtu, 17 Oktober 2026
Kutbah Jum'at Masjid Baitul Muttaqin SNESA (Bpk. Muhamad Yasin, S.Pd., M.Pd)
MENCIPTAKAN
LINGKUNGAN BEBAS PERUNDUNGAN
Jumat Legi, 16 Oktober 2026
Muhamad Yasin, S.Pd., M.Pd
Khutbah I
Jamaah shalat
Jumat rahimakumullâh,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas limpahan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan yang masih dianugerahkan kepada kita. Berkat rahmat-Nya, pada hari yang penuh berkah ini kita dapat berkumpul di Masjid Baitul Muttaqin SMPN 1 Ngunut ini untuk menunaikan ibadah shalat Jumat.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Selanjutnya,
marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan
melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan
bukan hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam setiap ucapan, sikap, dan
perbuatan kita. Sebab, seorang mukmin yang bertakwa akan selalu berhati-hati
agar tidak terjerumus ke dalam dosa, sekecil apa pun bentuknya.
Jamaah shalat
Jumat rahimakumullâh,
Fenomena bullying atau perundungan masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Perundungan atau bullying adalah perilaku yang sangat dilarang dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. melarang umat-Nya untuk menyakiti, menghina, merendahkan, atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Perilaku tersebut dapat menyakiti hati dan merugikan orang lain.
Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 58
Artinya: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”
Ayat tersebut mengandung perintah untuk menjauhi perilaku bullying atau merundung. Sementara itu, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Marah Labid juz 2 hal 261 menjelaskan bahwa:

Artinya: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat dengan ucapan ataupun perbuatan dengan tanpa adanya kesalahan dari mereka yang berhak dihukum maka mereka telah menanggung dosa yang nyata dan mewajibkan mereka disiksa di akhirat.”
Jamaah shalat
Jumat rahimakumullâh,
Dalam rangka mengatasi perundungan yang terjadi terutama di kalangan anak-anak diperlukan adanya kerjasama antara orang tua, masyarakat juga peran dari pemerintah melalui lembaga pendidikan / sekolah. Perlu adanya integrasi antara peran pemerintah, masyarakat dan keluarga dalam menangani dan mencegah kasus perundungan.
Pertama,
Peran pemerintah dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan terletak pada
pembentukan kebijakan, penegakan hukum, pendidikan dan pencegahan, serta
perlindungan dan rehabilitasi bagi korban.
Negara bertindak melalui berbagai lembaga dan badan pemerintah untuk menjamin bahwa anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan dan pendidikan, termasuk perundungan. Negara dalam hal ini pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi rakyatnya lewat kebijakan-kebijakan yang dibuat berdasarkan kemaslahatan masyarakat. Termasuk dalam hal ini ialah pemerintah memiliki peranan penting dalam membuat kebijakan untuk menciptakan lingkungan bebas perundungan.
Sebagaimana Ibnu Asyur menjelaskan peranan pemerintah dalam tafsirnya At-Tahrir wat Tanwir, juz 5, hal 97 berikut:

Artinya: “Pejabat pemerintahan dari rakyat ialah mereka yang dipasrahkan oleh rakyat untuk mengatur dan membuat kebijakan yang baik untuk rakyatnya sehingga rakyat bisa menjadikannya patokan. Sehingga hal tersebut seakan-akan menjadi keistimewaan bagi mereka”.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullâh,
Kedua, selain peran dari pemerintah dibutuhkan pula peran dari masyarakat setempat dalam menciptakan lingkungan bebas bullying. Di antara peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan ialah dengan memberikan informasi melalui sosialisasi dan edukasi mengenai hak anak, meningkatkan kesadaran bahaya perundungan dan memberikan pemahaman mengenai tanda-tanda bullying dan penanganannya dengan tepat.
Masyarakat
juga dapat mengambil peran aktif dalam mengambil tindakan hukum seperti
melaporkan bila melihat adanya tindakan perundungan dengan tujuan untuk
menyelesaikan kasus tersebut dan memberikan perlindungan pada korban.
Jamaah shalat
Jumat rahimakumullâh,
Ketiga, ialah peran dari keluarga. Keluarga khususnya orang tua memiliki peranan penting dalam menciptakan lingkungan bebas bullying. Di antaranya ialah dengan cara memberikan pendidikan dan edukasi terkait bahaya perundungan, pentingnya menghargai orang lain, dan nasihat baik lainnya sebagai upaya menjaga keluarga dari perbuatan buruk.
Allah berfirman dalam Surat
At-Tahrim ayat 6:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Demikian khutbah Jumat
terkait pentingnya peranan pemerintah, masyarakat dan keluarga dalam
menciptakan lingkungan bebas bullying. Semoga kita dan keluarga kita dijauhkan
dari perbuatan buruk yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Aamin
ya rabbal alamin.
Khutbah II


Kamis, 15 Oktober 2026
Kegiatan Hari Kamis tanggal 08 Oktober 2026
Bersama Kakak PPL UIN SATU Berbagi Ilmu tentang Pentingnya Sholat
dalam Kegiatan Remaja Masjid Baitul Muttaqien SNESA
Pada hari Kamis, 8 Oktober 2026, kegiatan rutin Remaja Masjid (REMAS) Baitul Muttaqien SNESA kembali dilaksanakan. Pada pertemuan kali ini, kegiatan kembali berlangsung bersama kakak-kakak Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) tahun 2026 yaitu kak Moh.Nur Aziz, Kak Adryan Eka Saputra dan Kak Muh.Nu'man Asssyauki. Kegiatan dihadiri oleh siswa kelas 7, 8, dan 9 serta didampingi oleh dua ibu guru, yaitu Ibu Nurul Hidayah, S.Ag. dan Ibu Yanis Setiawati, S.Pd.I., yang turut mendampingi jalannya kegiatan.
Kegiatan dibuka oleh Ibu Nurul Hidayah, S.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan REMAS dan mengingatkan bahwa kakak-kakak PPL UIN SATU akan terus berpartisipasi dalam kegiatan Remaja Masjid selama masa praktik. Kehadiran mahasiswa PPL diharapkan dapat memberikan pengalaman dan suasana belajar yang berbeda bagi para siswa. Setelah pembukaan singkat tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh kakak-kakak PPL.
Pada kegiatan inti, kakak-kakak PPL UIN SATU menyampaikan materi keagamaan dengan tema “Pentingnya Sholat dalam Kehidupan Seorang Muslim”. Materi disampaikan secara ringan dan interaktif sehingga siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak menjawab pertanyaan dan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Pembahasan diawali dengan pengertian sholat sebagai ibadah yang terdiri atas ucapan dan gerakan tertentu, dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Siswa juga diajak memahami bahwa sholat merupakan tiang agama dan kewajiban utama bagi setiap muslim yang harus dijaga dalam keadaan apa pun selama masih mampu melaksanakannya.
Selanjutnya, siswa dikenalkan dengan sholat fardu dan sholat sunnah. Selain sholat lima waktu, yaitu Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya’ sebagai sholat fardu, terdapat pula berbagai sholat sunnah seperti sholat Dhuha, Tahajud, dan Rawatib. Untuk menciptakan suasana yang lebih interaktif, kakak PPL memberikan pertanyaan ringan kepada siswa, seperti “Kalau sholat itu hanya gerakan dan bacaan saja, atau ada makna lain yang lebih dalam?” Dari pertanyaan tersebut, siswa diajak memahami bahwa sholat juga melatih seseorang untuk selalu mengingat Allah, menjaga hati, serta menjauhi perbuatan yang buruk.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai hikmah sholat. Sholat dapat melatih kedisiplinan, ketenangan hati, kejujuran, serta kepedulian terhadap sesama. Dengan menjaga sholat tepat pada waktunya, seseorang dibiasakan mengatur waktu dan mengutamakan kewajiban di atas kesenangan pribadi. Kegiatan berlangsung dalam suasana yang santai dan komunikatif. Antusiasme siswa terlihat ketika mereka menjawab pertanyaan dan mengikuti diskusi bersama kakak-kakak PPL.
Di akhir kegiatan, Ibu Yanis Setiawati, S.Pd.I. menutup acara dengan menyampaikan ucapan terima kasih kepada kakak-kakak PPL yang telah berbagi ilmu serta kepada seluruh siswa yang mengikuti kegiatan dengan baik. Beliau juga memberikan motivasi agar siswa senantiasa menjaga sholat lima waktu, tidak hanya ketika berada di sekolah, tetapi juga di rumah dan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kegiatan REMAS Baitul Muttaqien SNESA bersama kakak-kakak PPL UIN SATU menjadi salah satu bentuk kegiatan keagamaan sekaligus ruang interaksi positif antara mahasiswa dan siswa, serta terus menumbuhkan semangat siswa untuk memperdalam ilmu agama.
Pengumuman Pemenang Lomba Pidato dan Yel Yel Anti Narkoba Peringatan Hari Santri Nasional 2026
Hasil penilaian dewan juri Lomba Pidato dan Yel Yel Anti Narkoba dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional Hari kamis tanggal 22 Oktober ...
-
Bersama Kakak PPL UIN SATU Berbagi Ilmu tentang Puasa Dalam Kegiatan R emaja Masjid Baitul Muttaqien SNESA Pada hari Kamis...
-
Hasil penilaian dewan juri Lomba Pidato dan Yel Yel Anti Narkoba dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional Hari kamis tanggal 22 Oktober ...
-
Dokumentasi Kegiatan Hari Kamis 17 September 2026 Kegiatan Rutin REMAS Baitul Muttaqien Snesa : Qiroah, Perkenalan PPL UIN SATU, dan Ma...



.jpeg)

.jpeg)






.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)






.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)